Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2011

Berdakwah dengan Hati

Oleh: Tim kajian dakwah alhikmah

alhikmah.ac.id – “Maka disebabkan rahmat Allah atasmu, kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkan mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka…”(QS.:3:159)

Saudaraku, Sejarah telah memaparkan pancaran pesona akhlaq Rasulullah dalam perjuangan dakwah beliau sebagai suri teladan bagi kita (QS.:33:21). Kemudian Allah SWT menguatkan dengan firman-Nya “wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiim. Dan sesungguhnya engkau memiliki akhlak yang mulia.”(QS.:68:4). Tentunya ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Rumusan nyata dan gamblang tentang model manusia terbaik. Maka siapa yang ingin berhasil dalam mengemban tugas dakwah sebagaimana Rasul, hendaklah mengikuti jejak langkah Rasulullah dan menerapkan akhlaq Rasulullah dalam segenap aktivitas kehidupannya.

Dulu sering kita jumpai keluhan-keluhan dan kekecewaan terhadap penanganan dakwah di kalangan para mutarobbi –binaan atau murid ngaji atau anggota tarbiyah-. Fenomena berjatuhannya para aktivis dakwah, ditambah lagi dengan ketidaksukaan mereka terhadap pola dakwah ternyata – menurut mereka – disebabkan karena seringnya mereka menerima perlakuan yang tidak bijaksana.

Jawaban sederhana dari permasalahan di atas boleh jadi karena ketidak utuhan kita dalam meneladani Rasul atau bahkan mungkin karena kita belum mampu menanamkan akhlaq Rasul pada diri mereka. Akibatnya kita sering tidak sabar dan tidak bijaksana menyikapi mereka, sementara merekapun terlalu mudah tersinggung dan cengeng menyikapi teguran dan nasihat yang mereka anggap sebagai pengekang kebebasan. Komunikasi yang tidak sehat ini sebenarnya bisa diatasi dengan menyadari sepenuh hati akan begitu pentingnya penanaman dan penerapan akhlaq Rasulullah dalam berbagai pendekatan dakwah. Ditinjau dari segi juru dakwah, keinginan meluruskan, teguran, penugasan, sindiran dan sebagainya sebenarnya dapat dikemas dengan akhlaq. Begitupun dari segi mad’u –peserta dakwah atau yang didakwahi- ; ketidakpuasan, ketersinggungan, perasaan terkekang dan kejenuhan juga dapat diredam dengan akhlaq. Akhlaq menuntun kepada kemampuan untuk saling menjaga perasaan, saling memaklumi kesalahan dan mengantarkan kepada penyelesaian terbaik.

Banyak murabbi –pembina atau yang mentarbiyah- yang dikecewakan dan ditinggalkan binaaanya, tapi dia mampu mengemas luka itu dengan empati dan terus mendoakan kebaikan bagi binaannya. Bahkan diiringi harapan suatu saat Allah swt. mengembalikan binaannya dalam aktvitas dakwah, walaupun mungkin bukan dalam penanganannya. “Mungkin dengan saya tidak cocok, tapi semoga dengan murabbi lain cocok”. Ada mutarabbi yang diperlakukan tidak bijaksana oleh murabbinya namun akhlaq menuntunnya untuk mengerti dan menyadari bahwa murabbinya bukan nabi, sehingga dia tidak dendam dan menjelek-jelekkan murabbinya, melainkan tetap merasa bahwa murabbi dengan segala kekurangannya telah berjasa banyak padanya. Dia tidak membenci dakwah meskipun dia dikecewakan oleh seorang aktivis dakwah.

Di antara nilai-nilai akhlaq yang semuanya mesti kita tanamkan dalam diri kita masing-masing adalah dua nilai yang cukup relevan dengan kelancaran dakwah, yaitu kelembutan dan rendah hati.

Kelembutan adalah perpaduan hati, ucapan dan perbuatan dalam upaya menyayangi, menjaga perasaan, melunakkan dan memperbaiki orang lain. Kelembutan adalah kebersihan hati dan keindahan penyajian yang diwujudkan dalam komunikasi lisan maupun badan. Bukanlah kelembutan bila ucapannya lembut tapi isinya penuh dengan kata-kata kasar menyakitkan (nyelekit). Bukan pula kelembutan bila menyampaikan kebenaran tapi dengan caci maki dan bentakan.

Berwajah manis penuh senyum, memilih pemakaian kata yang benar dan pas (qaulan sadidan), memaafkan, memaklumi, penuh perhatian, penuh kasih sayang adalah tampilan kelembutan. Wajah sinis, penuh sindiran yang terkadang tanpa tabayyun, buruk sangka, ghibah, mendendam, emosional merupakan kebalikan dari sifat kelembutan.

Rendah hati merupakan perpaduan hati, ucapan dan perbuatan dalam upaya mendekatkan atau mengakrabkan, melunakkan keangkuhan, menumbuhkan kepercayaan, membawa keharmonisan dan mengikis kekakuan. Angkuh, sok pintar dan hebat, merasa paling berjasa, merasa levelnya lebih tinggi, minta dihormati, enggan menegur atau menyapa lebih dulu, tidak mau diperintah, sulit ditemui atau dimintai tolong dengan alasan birokratis, menganggap remeh, cuek dan antipati merupakan lawan dari rendah hati. Allah swt. berfirman dalam surah Asy Syu’araa ayat 215 “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang beriman yang mengikuti kamu.”

Bila Rasulullah saw. saja dengan berbagai pesona dan kelebihannya diperintah untuk tawadhu (dan Rasul telah menjalankan perintah itu), tentulah kita yang apa adanya ini harus lebih rendah hati. Rendah hati terhadap murabbi, rendah hati terhadap mutarabbi dan rendah hati terhadap seluruh orang-orang beriman menunjukkan penghormatan kita pada Rasul dan pada kebenaran Al-Qur’an. Sebaliknya, keangkuhan dan perasaan lebih dari orang lain menandakan masih jauhnya kita dari Al-Qur’an dan Hadist.

Saudaraku, Marilah kita lebih mengaplikasikan apa-apa yang sudah kita ketahui. Betapa pemahaman kita tentang pentingnya akhlak dalam mengantarkan pada kesuksesan dakwah mungkin sudah cukup mumpuni. Namun tinggal bagaimana kita terus meningkatkan penerapan nilai-nilai akhlaq itu dalam kehidupan kita sehari-hari, khususnya dalam mengemban tugas dakwah. Telah dan akan terus terbukti bahwa sambutan masyarakat terhadap dakwah adalah di antaranya karena pesona akhlaq kita, kelembutan kita, memaklumi, mengingatkan dan meluruskan mereka dan kerendahhatian kita untuk terus bersabar mendekati dan menemani hari-hari mereka dengan dakwah kita. Dalam konteks khusus pun demikian, betapa kelembutan dan kerendahhatian ternyata lebih melanggengkan atau mengawetkan binaan-binaan kita untuk terus berdakwah bersama kita.

Saudaraku, Hendaknya dari hari ke hari kita terus mengevaluasi diri, membenahi akhlaq kita dan memantaskan diri (sepantas-pantasnya) sebagai seorang juru dakwah. Memang kita manusia biasa yang penuh salah dan kekurangan, namun janganlah itu menjadi penghalang kita untuk bermujahadah diri menuju kepada kedewasaan sejati. Masa lalu yang kasar dan angkuh hendaklah segera pupus dari diri kita. Kita mulai membiasakan diri untuk lembut di tengah keluarga, di antara aktivis dakwah hingga ke masyarakat luas. Kita mesti melatih kerendahhatian di tengah murid-murid kita, dengan sesama aktivis, pada murabbi kita hingga ke seluruh masyarakat. Dan pada akhirnya nanti insya Allah kita dapatkan keberhasilan dakwah Rasulullah terulang kembali, lewat hati, ucapan dan perbuatan kita yang telah diwarnai nilai-nilai akhlaq.

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah dengan cara yang baik pula. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS 16:125). Allahu a’lam (dkwt)

Jumat, 23 September 2011

Fanatisme Hizbiyah

AL-QURAN nétélakeun yén Alloh SWT parantos nyiptakeun manusa jadi sababaraha golongan, “Yeuh manusa! saéstuna Kami ngajadikeun maranéh ti hiji lalaki jeung hiji awéwé, jeung Kami geus ngajadikeun maranéh sababaraha bangsa jeung sababaraha golongan……. “.

Tujuan tina diciptakeunana manusa jadi sababaraha golongan jeung bangsa dijéntrékeun di tengah ayat surat al-Hujurot éta nyaéta; “Sangkan maranéh silih pikawanoh”. Saterusna masih dina éta ayat, ditétélakeun yén anu pangmulya téh lain golonganana, bangsana, tapi kataqwaanana; “Saéstuna jalma nu pangmulyana mungguh Alloh mah nyaéta nu pangtaqwana ti antara maranéh. Saéstuna Alloh Maha Uninga tur Maha Ningali”.
Dina prakna mah, ku ayana golongan-golongan, kabilah-kabilah tadi sok dituturkeun kalawan panatik. Ari fanatisme téh nyaéta ngayakinkeun, nuturkeun, ngabéla golongan-golongan, kabilah-kabilah bari ngorbankeun ukhuwah, megatkeun tatali asih jeung papada manusa alatan béda paham jeung sabangsana. Dina Islam sikep kitu téh henteu dibenerkeun. Ku ayana golongan, kabilah kudu jadi lita’arofu, silih pikawanoh dina raraga “Fastabiqul khoirot”, Paheula-heula dina enggoning milampah kahadéan.
Jalaran kitu, kawajiban para tokoh organisasi, boh di ormas atawa LSM nyaéta pikeun ngaleungitkeun panatisme golongan tadi. Urang kudu pengkuh kana kaummatan, dina wangun nu leutikna mah kabangsaan. Fanatisme ukur nuturkeun pendapat golonganana sanajan salah, bari nuding salah ka séjén pihak. Dina fanatisme ngancik unsur apriori, nampik rupa-rupa pépéling jeung pendapat nu jolna ti luareun golonganana, tur mibanda sikep arogan jeung ngarasa bener sorangan. Sikep kieu anu teu dimeunangkeun ku Islam.
Di lemah cai Indonésia ogé lahir golongan-golongan ékslusif, teu daék campur gaul atawa nampik guru anu datangna ti luareun golonganana, cohagna mah nyingkur sorangan. Tangtu bahaya, lamun tina ékslusif tadi jadi agrésif, nu gawéna téh ngan nyalahkeun batur wungkul. Conto dina jaman Nabi SAW, kumaha tarékah Nabi dina ngaléahkeun sikep dua golongan anu geus lila mumusuhan, nyaéta Aus jeung Hojroz atawa Muhajirin jeung Anshor, masing-masing ti golongan ieu tetep dilandi ku golonganana masing-masing, malah ngaran kobilahna ogé tetep dimumulé, tapi lain keur fanatisme saperti saméméh ngagem Islam. Ngaran-ngaran kabilah di Makkah nepi ka kiwari tetep aya jeung loba, tapi lain keur fanatisme, ngan keur ciri atawa idéntitas.
Jadi, anu dicaram tina fanatisme nyaéta nu béak karep ngabéla golongan, kabilah sorangan, sanajan katohyan salahna, mageran diri tina campur gaul jeung papada manusa, apriori tur arogansi. Sikep kitu baris ngadatangkeun mamala, lain ukur keur batur tapi ogé dirina sorangan.
Mémang fanatisme bisa ngalahirkeun kawani, sumanget, tur dimeunangkeun, ari fanatikna kana bebeneran mah, ka Islam atawa kana perkara-perkara nu hadé. Demi fanatik kabilah atawa golongan mah hartina ngamusuhan ka kabilah atawa golongan séjén, saperti anu kajadian di lemah cai urang, nyaéta nalika FPI (Front Pembéla Islam) meredih ka Gus Dur nu geus ngalélécé al-Quran sangkan narik deui omonganana jeung ménta dihampura ka ummat Islam. Tapi éta pameredih kalah disanghareupan ku jalma-jalma nu ngabela Gus Dur kalayan bébéakan, sanajan écés salah. Loba kénéh kajadian-kajadian, hususna di daérah-daérah anu jauh ti kota, alatan béda paham, organisasi nepi ka riributan jeung sasama ummat Islam kénéh. Ieu pisan anu teu diharepkeun jeung teu perelu tumiba.
Urang kudu ngajadikeun golongan, kabilah, organisasi minangka alat bajoang, alat da’wah jeung ijtihad, ulah dijadikeun tujuan. Nu ngaran PERSIS, NU, Muhammadiyah, al-Irsyad, Al-Wasliyah, jsté, alat pikeun ngawangun ummat Islam, ulah sabalikna Islam dijadikeun alat pikeun golongan.
Pikeun numuwuhkeun kasadaran di antara tokoh Islam, hususnya jeung ummat, umumna sangkan sabilulungan jeung papadana, tur ngaleungitkeun sikep fanatis. Ieu kudu dihirupkeun jeung digedurkeun ngaliwatan dialog atawa gunem-catur. Kudu aya katerbukaan jeung mindeng silaturrahim. Lamun sering paamprok, sakumaha keuheul jeung ceuceubna ogé tangtu bakal léah. Leuwih jauhna, ku seringna silaturrahim, bakal silih ajénan jeung sasama, sanajan béda paham. Urang boga musuh anu kudu dikungkulan ku sarerea, mangrupa kamiskinan jeung kabodohan. Naon baé golonganana, hususna muslim, kabéh mibanda kawajiban dina ngabébaskeun ieu bangsa tina karuksakan moral nu mingkin nyirorot, dibarung kabodoan jeung kamiskinan.
Pikeun nyumponan éta kawajiban mémang teu gampang siga malikeun dampal leungeun, nalika aya nu mibanda kapentingan pribadi, lamun urang remen amprok, remen ngayakeun gunem catur, insya Alloh gétréngna urang jeung papada dulur téh bakal léah, moal ngabatu atawa fanatik teuing. Cukang lantaran tumuwuhna kafanatikan dina diri hiji jalma, biasana alatan boga pangaweruh anu heureut, élmu anu teu sabaraha jeung kurang campur gaul, antukna ngarasa panghadéna, pangbisana. Tah, anu kieu pisan anu baris mawa mamala téh.
Cacak dialog-dialog geus kungsi diayakeun ku BKUI, BKPRMI, BAKOMUBIN, MUI nu tujuanana pikeun ngurangan sikep panatik diantara ummat Islam, tapi hasilna masih kénéh saperti kieu, komo lamun euweuh, jigana bakal tambah rumeuk jeung harénghéng baé, godaan pikeun nanjeurkeun bebeneran memang beurat, urang geus narékahanan, tapi golongan séjén sigana milu ngiruhan, aya nu jadi lauk buruk milu mijah.
Sangkan sikep panatik teu ngalegaan di antara papada ummat Islam, mangka kahareupna, ummat Islam kudu ngawangun hiji sikep jeung pamadegan nu tandes ti saban organisasi. Organisasi ukur alat pikeun ngahontal hiji tujuan, nyaéta izzul Islam wal muslimin. Sapanatik kumaha ogé kana organisasi, ari jihat tujuanana mah pikeun izul Islam wal muslimin saeutikna mah bakal léah nalika béda paham.
Urang ulah nganggap dulur nu béda organisasi minangka jalma luar, tapi tetep dulur, ngan boga alat nu béda. Lamun urang organisasina PERSIS mangka ka NU ulah dianggap luar, pon kitu deui sabalikna. Eta kabéh dulur, alatna wungkul nu béda. Ieu pamadegan kudu digedurkeun tur mekarkeun ku urang. Jalaran kitu, melakeun sikep panatik dina ormas kurang hadé. Pék baé aya ajaran ka-Muhammadiah-an, ka Persis-an, ka Nu-an, lain sangkan jadi panatik, tapi pikeun ngawanohkeun alat anu dipake téh kieu sajarahna, kieu khittohna. Jigana ceuk kuring mah kitu pipikiran para panaratas organisasi baheula téh, minangka alat pikeun da’wah.
Urang ogé sadar, panatisme bakal ngagedur lamun geus paaduhareupan jeung pilihan pulitik anu aya pakuat-pakaitna jeung korsi atawa nu séjénna. Dina sajarah ogé katohyan yén ummat Islam mah rémpan lamun geus béda paham dina pulitik téh, gampang paraséa, béda paham dina pikih mah camberut meueusan lah, tapi lamun geus kana ambahan pulitik mah, nu asalna sobat dalit ogé dipaséaan. (Wawancara: Alma’/BD).*

Sebuah Kebenaran Kecil

Sebuah KEBENARAN KECIL Apa yang membuat hidup sobat semua menjadi 100% jika alfabet di beri sebuah nilai mulai dengan huruf a=1, b=2, ...